- Diposting oleh : Wahyu Anggoro Saputro
- pada tanggal : Januari 19, 2026
KANDANGAN – Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid SMP Muhammadiyah 5 Kandangan pada hari Senin, 19 Januari 2026. Ratusan siswa, dewan guru, serta staf sekolah berkumpul untuk memperingati salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam: Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Peringatan tahun ini terasa istimewa bukan hanya karena antusiasme warga sekolah, melainkan karena kedalaman materi yang disampaikan oleh penceramah utama, Bapak Asmu’i, S.Pd. Selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Keislaman, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Waka ISMUBA), beliau menyampaikan tausiyah yang menggugah nalar sekaligus menggetarkan iman, dengan mengangkat tema yang mengolaborasikan dimensi spiritualitas transendental dengan batasan ilmu pengetahuan modern.
Dalam ceramahnya yang berdurasi sekitar satu jam tersebut, Pak Asmu’i tidak hanya menceritakan ulang kronologi perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dalam lagi, beliau mengajak para jamaah untuk merenungi hakikat peristiwa tersebut dengan menggunakan komparasi yang menarik: batas capaian intelektual manusia yang diwakili oleh pemikiran Albert Einstein.
“Seringkali kita, manusia modern yang hidup di era digital dan teknologi canggih ini, mencoba menakar segala sesuatu dengan logika empiris,” buka Pak Asmu’i di hadapan para siswa yang duduk bersila menyimak dengan takzim. “Kita terbiasa dengan hukum fisika, dengan sebab-akibat yang bisa dihitung di atas kertas.”
Beliau kemudian menyinggung sosok Albert Einstein, ilmuwan jenius abad ke-20 yang merumuskan teori relativitas. Einstein, dengan segala kecerdasannya, menetapkan bahwa kecepatan cahaya (sekitar 300.000 kilometer per detik) adalah batas kecepatan kosmik tertinggi yang mungkin ada di alam semesta ini menurut hukum fisika yang kita pahami. Tidak ada materi yang bisa melampaui kecepatan tersebut. Teknologi tercanggih buatan manusia hari ini pun, seperti roket atau pesawat antariksa, masih jauh panggang dari api untuk mendekati kecepatan cahaya, apalagi melampauinya.
“Einstein adalah simbol puncak pencapaian nalar dan sains manusia dalam memahami alam semesta. Teorinya menjadi landasan bagi implementasi teknologi modern kita,” jelas Pak Asmu’i dengan intonasi yang tegas. “Namun, peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Baginda Nabi Muhammad SAW menghancurkan semua batasan tersebut dalam sekejap mata. Perjalanan ribuan kilometer di bumi, dilanjutkan menembus tujuh lapis langit hingga ke ‘Arasy, dan kembali lagi ke Mekkah, semua terjadi hanya dalam sebagian kecil malam.”
Poin krusial yang ditekankan oleh Waka ISMUBA ini adalah bahwa Isra’ Mi’raj bukanlah peristiwa yang tunduk pada hukum fisika atau implementasi teknologi ala Einstein. Peristiwa ini adalah demonstrasi mutlak dari Qudratullah (Kekuraaan Allah) yang melampaui ruang dan waktu. Jika sains bekerja dalam kerangka ‘sunnatullah’ (hukum alam) yang telah ditetapkan-Nya, maka Isra’ Mi’raj adalah momen ketika Sang Pencipta hukum itu sendiri ‘melipat’ aturan main-Nya untuk kekasih-Nya.
“Ketika Allah berkehendak, teori relativitas Einstein menjadi tidak relevan. Ini bukan tentang teknologi Buraq yang canggih, melainkan tentang siapa yang mengendalikan perjalanan itu. Ini adalah wilayah iman, di mana logika harus menunduk mengakui keterbatasannya di hadapan kebesaran Ilahi,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, Pak Asmu’i berhasil menjembatani kesenjangan antara pola pikir siswa generasi Z yang kritis dan rasional dengan ajaran agama yang bersifat dogmatis. Beliau menegaskan bahwa beriman kepada Isra’ Mi’raj tidak berarti menolak sains, tetapi menempatkan sains pada porsinya—sebagai alat untuk memahami ciptaan-Nya, bukan untuk membatasi kekuasaan-Nya.
Di akhir ceramahnya, Pak Asmu’i menarik kesimpulan praktis bagi para siswa SMP Muhammadiyah 5 Kandangan. Jika Nabi Muhammad SAW mengalami Mi’raj secara fisik untuk menerima perintah salat, maka umat Islam memiliki kesempatan untuk melakukan “mi’raj” rohani lima kali sehari.
“Oleh-oleh terbesar dari perjalanan yang melampaui nalar Einstein ini adalah salat lima waktu. Salat adalah ‘mi’raj-nya’ orang mukmin. Ketika kalian takbiratul ihram, jiwa kalian sedang melakukan perjalanan spiritual menembus batas duniawi untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Maka, jangan sia-siakan teknologi spiritual yang dahsyat ini,” pungkasnya, menutup tausiyah yang disambut dengan gumam salawat dari seluruh jamaah.
Acara peringatan kemudian ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekolah tentang betapa kerdilnya pengetahuan manusia dibandingkan dengan keagungan skenario Allah SWT.
