- Diposting oleh : Wahyu Anggoro Saputro
- pada tanggal : Desember 14, 2025
SURAKARTA – Ajang bergengsi Festival Olahraga Daerah (FORDA) Jawa Tengah yang digelar di Kota Surakarta pada 5 hingga 7 Desember 2025 menjadi saksi bisu lahirnya mental-mental juara baru. Di tengah hiruk-pikuk ribuan pegiat olahraga rekreasi dari berbagai penjuru provinsi, lima siswa dari SMP Muhammadiyah 5 Kandangan tampil percaya diri membawa panji sekolah dan daerah dalam cabang olahraga Panahan Tradisional (Horsebow).
Meski tidak semua anak panah mendarat tepat di titik tengah sasaran (x-ring), apa yang dibawa pulang oleh kelima “pendekar” muda ini jauh lebih berkilau daripada sekadar medali: sebuah prestasi pengalaman dan kematangan mental yang ditempa langsung di lapangan kompetisi level provinsi.
Panggung Megah FORDA: Ujian Mental Sesungguhnya
Bagi para siswa SMP Muhammadiyah 5 Kandangan, menginjakkan kaki di arena FORDA Jateng di Surakarta adalah sebuah lompatan besar. Kompetisi ini bukan sekadar latihan rutin di halaman sekolah. Atmosfer di Surakarta begitu berbeda. Tribun penonton yang riuh, deretan bendera kontingen dari 35 kabupaten/kota, serta kehadiran atlet-atlet senior yang sudah malang melintang di dunia Horsebow, menciptakan tekanan psikologis tersendiri.
Keikutsertaan lima siswa ini adalah bukti keseriusan SMP Muhammadiyah 5 Kandangan dalam mengembangkan potensi non-akademik siswa, khususnya dalam olahraga sunah memanah. Cabang Horsebow sendiri dikenal memiliki tingkat kesulitan yang unik. Berbeda dengan panahan modern yang dilengkapi alat bantu bidik (visir) dan stabilizer, Horsebow mengandalkan insting, rasa (feeling), dan memori otot yang kuat.
“Berdiri di garis tembak (shooting line) bersama ratusan pemanah lain, dengan angin yang berhembus cukup kencang di lapangan terbuka Surakarta, adalah guru terbaik bagi anak-anak. Di sinilah mereka belajar mengendalikan detak jantung dan menjaga fokus di tengah distraksi,” ujar salah satu pendamping tim dari SMP Muhammadiyah 5 Kandangan.
Belajar dari Lapangan: Lebih dari Sekadar Menang dan Kalah
Fokus utama pengiriman kontingen kali ini memang bukan semata-mata target medali emas, melainkan “prestasi pengalaman”. Dalam dunia pembinaan usia dini, jam terbang adalah mata uang yang paling berharga. Selama tiga hari kompetisi, kelima siswa ini menyerap banyak pelajaran yang tidak diajarkan di dalam kelas.
Hari pertama, 5 Desember, diisi dengan babak kualifikasi yang melelahkan. Para siswa harus beradaptasi dengan cuaca Surakarta yang cukup terik. Di sini, ketahanan fisik mereka diuji. Mereka belajar bahwa menjadi atlet bukan hanya soal teknik menarik busur (drawing) dan melepas (release), tetapi juga soal manajemen stamina dan hidrasi agar tetap prima hingga anak panah terakhir.
Hari kedua dan ketiga menjadi momen krusial di mana mentalitas mereka ditempa. Ada momen ketika anak panah meleset, dan di situlah pelajaran tentang “bangkit dari kegagalan” terjadi secara instan. Mereka diajarkan untuk tidak larut dalam kekecewaan, melainkan segera mereset fokus untuk tembakan berikutnya. Sikap qanaah (menerima hasil usaha) namun tetap ikhtiar maksimal menjadi nilai moral yang tertanam kuat.
Jejaring Persaudaraan dan Sportivitas
Selain aspek teknis dan mental, FORDA Jateng 2025 juga menjadi ajang silaturahmi yang luar biasa. Kelima pegiat panahan muda ini berkesempatan bertemu dengan komunitas Horsebow dari berbagai daerah seperti Banyumas, Semarang, dan Klaten.
Interaksi di luar garis tembak membuka wawasan mereka. Mereka melihat beragam teknik, beragam jenis busur, dan yang terpenting, beragam karakter manusia. Ada semangat sportivitas yang tinggi ketika sesama pemanah saling menyemangati meskipun mereka adalah rival. Pelajaran tentang menghormati lawan dan mengakui keunggulan orang lain adalah “kurikulum” tersembunyi yang mereka pelajari langsung di lapangan Surakarta.
“Anak-anak melihat sendiri bahwa di atas langit masih ada langit. Melihat kemampuan peserta lain memacu motivasi mereka untuk berlatih lebih keras lagi setibanya di Kandangan nanti. Ini adalah trigger positif yang sangat mahal harganya,” tambah sang pelatih.
Pondasi untuk Masa Depan
Partisipasi dalam ajang sekelas FORDA Jateng merupakan investasi jangka panjang bagi SMP Muhammadiyah 5 Kandangan. Pengalaman yang didapat oleh lima siswa ini diharapkan dapat ditularkan kepada teman-temannya di sekolah. Mereka kini bukan hanya sekadar siswa yang hobi memanah, tetapi telah bertransformasi menjadi atlet yang memahami dinamika kompetisi sesungguhnya.
Pihak sekolah mengapresiasi setinggi-tingginya perjuangan kelima siswa tersebut. Keberanian mereka untuk tampil dan berkompetisi di hadapan publik Jawa Tengah sudah merupakan kemenangan tersendiri. Mereka telah berhasil menaklukkan rasa takut dan keraguan diri sendiri.
Sepulang dari Surakarta, tidak ada raut wajah kekecewaan, yang ada hanyalah semangat baru. Busur dan anak panah mungkin bisa disimpan kembali ke dalam tas, namun pelajaran tentang disiplin, fokus, ketenangan, dan sportivitas yang mereka dapatkan selama tanggal 5 hingga 7 Desember 2025 akan terus melekat sebagai bekal karakter menuju masa depan.
SMP Muhammadiyah 5 Kandangan telah membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya terjadi di balik meja kelas, tetapi juga di garis tembak, di bawah terik matahari, dan di tengah persaingan ketat FORDA Jateng. Bagi kelima pendekar muda ini, pengalaman adalah medali emas yang sesungguhnya.
